Minggu, 16 September 2018

Innisfree Best Collection Kit For New Member

Masih membahas tentang perawatan wajah yang saya pakai setahun ini. Hehehe. Ketika saya ke gerai Innisfree di Central Park Jakarta untuk membeli rangkaian Super Volcanic Pore Clay Mask, saya ditawari untuk membuat kartu keanggotaan Innisfree sebelum melakukan pembayaran di kasir. Saya pun mengiyakan karena akan mendapat produk Innisfree gratis! Hahaha.


Nah, produk gratis yang didapatkan dari membuat kartu keanggotaan adalah produk dalam bentuk mini, antara lain Super Volcanic Pore Clay Mask, Innisfree The Green Tea Seed Serum, dan Innisfree Orchid Enriched Cream. Kalau masker sih sudah saya ulas sebelumnya ya jadi kali ini saya akan mengulas serum dan pelembabnya. Saya akan mengulas serumnya terlebih dahulu berdasarkan apa yang saya rasakan.


Perawatan wajah sebenarnya hanya terdiri dari empat tahap namun dalam perawatan wajah ala Korea Selatan meluas menjadi sepuluh bahkan belasan tahap. Serum merupakan salah satu tahap yang ada dalam perawatan wajah ala Korea Selatan. Serum memiliki bentuk yang lebih kental dari toner dan lebih encer dari pelembab dan menurut saya serum Innisfree ini tergolong encer jadi lebih hemat dalam penggunaannya. Aromanya juga enak di hidung saya, tidak terlalu manis dan kuat.

Sama seperti ulasan di unggahan sebelumnya, saya menggunakan serum ini apabila saya maskeran. Hehehe. Saya merasa tidak cocok dengan serum ini. Saya memang tidak mengalami beruntusan tapi saya langsung memiliki dua atau tiga jerawat besar sekaligus setelah menggunakannya. Huhuhu. Jadi memang benar ya, produk Innisfree tidak membuat beruntusan? Hehehe.

Awalnya saya kira jerawat yang muncul hanya masalah hormon tapi ada seorang teman saya yang juga memakai serum ini. Teman saya ini bercuit di akun twitter-nya jika dia berjerawat setelah memakai serum ini dan menyimpulkan jika dia tidak cocok. Membaca cuitannya, saya jadi berpikir jika yang saya alami sama. Saya memutuskan untuk puasakan wajah saya dari serum ini untuk mengempeskan jerawat besar yang ada. Saat saya mencobanya lagi, wajah saya tidak berjerawat lagi dan saya terus menggunakan serum ini sampai habis karena sayang kalau tidak dihabiskan walaupun gratisan.

Tidak semua produk best seller dari perawatan wajah cocok di wajah kita, termasuk saya yang kurang cocok dengan serum ini. Mungkin karena permasalahan wajah saya tidak sesuai dengan serum ini sehingga kurang cocok. Harga serum ini juga termasuk menguras kantong ya seperti toner-nya, namun serum ini ada dijual dalam bentuk mini. Berbeda dengan rangkaian Super Volcanic Pore Clay Mask yang membuat saya galau untuk repurchase atau tidak, untuk serum ini saya tidak ragu untuk tidak repurchase. Hehehe.

Produk selanjutnya yang akan saya ulas adalah Innisfree Orchid Enriched Cream. Ini merupakan pelembab sekaligus anti aging yang tidak mengandung SPF atau UV Protection.


Saya suka pelembab ini dan ini merupakan produk Innisfree yang membuat saya tidak ragu untuk repurchase dari segi kualitas, fungsi, dan kecocokan. Hanya segi harga yang membuat saya berpikir panjang untuk repurchase. Hehehe. Saya menggunakan pelembab ini pada malam hari dan dibawa tidur tapi kadang saya gunakan juga di siang hari. Saat saya kondangan di siang hari, saya gunakan pelembab ini sebagai base sebelum dirias.

Karena ini merupakan produk anti aging, seorang teman saya ada yang bilang begini ke saya:

"Umur belum kepala 3 kenapa pakai anti aging sih? Pemborosan aja!"

Hahahaha! Jadi begini, saya kan termasuk perempuan yang telat mengenal produk perawatan wajah, selama seperempat abad saya hanya membersihkan wajah dengan air dan pembersih wajah, tidak pernah pakai sun protection juga. Jadi saya merasa kulit wajah saya mengalami penuaan dini, terlepas dari wajah saya yang memang terlihat lebih tua dewasa dari usia saya sebenarnya. Hahaha. Wajah saya memang tidak ada kerutan karena memang usia saya yang belum kepala 3 tapi ya saya merasa wajah saya mengalami penuaan dini. Hehehe. Saya belum pernah periksa usia kulit wajah ya jadi ini murni pendapat saya, belum tentu benar jika diperiksa. Mungkin juga karena wajah saya yang terlihat tua dewasa jadi saya merasa kulit wajah saya mengalami penuaan dini.

Mayoritas produk Innisfree sepertinya memang memiliki aroma yang ringan dan harum, termasuk pelembab ini. Jika dibandingkan dengan serumnya, pelembab ini lebih tidak lengket di tangan dan wajah. Pagi hari saya dibuat bahagia karena wajah saya terasa kenyal saat disentuh. Hehehe. Untuk harga, jangan ditanya! Hahaha. Semua produk yang ada embel-embel anti aging tidak ada yang murah! Pelembab ini merupakan salah satu produk Innisfree dengan harga mahal. Tapi memang karena faktor kecocokan jadi saya akan repurchase. Hehehe.

Jumat, 14 September 2018

Innisfree Jeju Volcanic Pore Cleansing Foam and Toner

Tidak afdol rasanya jika di ulasan sebelumnya saya menampilkan gambar pembersih wajah dan toner Innisfree tapi keduanya tidak ikut diulas. Hehehe. Saya akan mengulas pembersih wajahya terlebih dahulu baru kemudian mengulas toner-nya.


Nama produknya terdapat kata “volcanic”. Kalau saya pribadi langsung beranggapan jika produk ini berbau tidak enak seperti produk yang mengandung belerang. Untuk maskernya sih saya tidak mencium aroma yang mengganggu bahkan hidung saya seperti tidak mencium ada aroma apa-apa di maskernya. Ternyata pembersih wajahnya berbeda karena memiliki aroma yang enak. Aromanya tidak terlalu manis dan kuat seperti pembersih wajah merk lain yang pernah saya coba. Saya suka aromanya tapi ada waktu-waktu tertentu saya justru enek dengan aromanya, entah karena bosan atau apa.

Pembersih wajah ini mengandung bulir-bulir kecil dan halus yang tidak menyebabkan wajah kasar setelah menggunakannya. Wajah saya justru menjadi lebih kenyal dan enak disentuh setelah menggunakannya. Produksi minyak juga aman tapi pori-pori saya masih segitu-gitu saja. Petunjuk penggunaannya adalah membilas dengan air hangat tapi dari awal hingga pembersih wajah ini habis, saya tidak pernah membilasnya dengan air hangat dan tidak memberikan efek negatif di wajah saya. Untuk ukuran mini, pembersih wajah ini tergolong hemat. Saya katakan demikian karena saya hanya menggunakannya jika akan menggunakan maskernya. Hahaha. Jadi kalau saya tidak mau maskeran, saya tidak menggunakan pembersih wajah.

Kalau ditanya apakah saya akan repurchase produk ini, saya tidak bisa menjawab. Hehehe. Di ulasan sebelumnya kan saya bilang lebih tertarik untuk membeli scrub-nya jadi saya merasa pemborosan jika membeli ini dan scrub. Selain itu juga karena saya baru membeli pembersih wajah Garnier yang ukuran besar. Hehehe


Selanjutnya saya akan mengulas toner-nya. Jadi urutan penggunaan ketiga produk ini adalah pembersih wajah - toner - masker. Sama seperti pembersih wajahnya, saya menggunakan toner ini saat akan memakai maskernya jadi hemat digunakannya. Aroma toner ini hampir mirip dengan pembersih wajahnya tapi lebih ringan lagi. Kalau dibandingkan toner lain yang pernah saya gunakan, toner ini tidak terlalu membersihkan kotoran di wajah. Jadi kapas yang digunakan warnanya tidak berubah, kalaupun berubah ya tidak banyak berubah. Saya kurang paham ya mana yang seharusnya, setelah kita membersihkan wajah dengan pembersih wajah kemudian dilanjut toner. Haruskah kapasnya berubah warna? Hehehe

Selain itu, awalnya saya kira toner ini merupakan exfoliating toner karena maskernya dapat mengangkat sel kulit mati di wajah. Saya pernah membaca tanya jawab di salah satu unggahan pada akun instagram Innisfree Indonesia kalau ini hanya toner biasa sehingga tidak mengangkat sel kulit mati (maaf kalau salah tulis karena ingatan saya). Tapi ya menurut saya cukup beralasan kalau ini hanya toner biasa karena toner ini akan efektif dan maksimal jika digunakan secara bersamaan dengan pembersih wajah dan maskernya. Kalau semua bersifat exfoliate, habis dong kulit wajah kita kalau digunakan rutin dan jangka panjang.

Harga toner ini lumayan menguras kantong ya, apalagi dibanding toner merk lain dengan ukuran yang sama. Apalagi jika ini bukan exfoliating toner. Jadi saya beranggapan jika exfoliating toner harganya harus lebih mahal. Hahaha. Saya masih galau mau repurchase atau tidak. Tapi kemungkinan besar tidak ya, kecuali Innisfree menjual paket seperti ini lagi. Hehehe.

Kesimpulan yang saya bisa tarik adalah wajah saya kemungkinan besar cocok dengan rangkaian ini, mengingat Innisfree merupakan produk perawatan wajah yang tidak menyebabkan efek beruntusan jika tidak cocok. Hasil yang saya lihat tidak signifikan karena saya tergolong malas menggunakannya dan tidak sesuai petunjuk penggunaan yang seharusnya. Hehehe.

Innisfree Jeju Super Volcanic Pore Clay Mask

Hellooooo, I'm back! Hahahaha. Bulan Mei lalu HP jadul android kesayangan saya ngambek, disusul nomor HP yang sudah 8 tahun bersama hangus. Sedih banget kalo diinget. Hiks. Akhirnya saya bener-bener vakum dari dunia maya dan sekarang niat menulis saya sedang timbul :) Saya mau ikut kekinian dengan menulisan ulasan produk perawatan wajah yang saya gunakan setahun ini. Saya bingung mau mengulas yang mana terlebih dahulu tapi akhirnya memutuskan untuk mengulas ini. Ya, memang sudah sangat terlambat untuk mengulas ini karena sekarang sudah ada varian barunya! Hahaha. Tapi saya tetap akan mengulasnya sih :))



Sebelum mengulas, saya mau cerita dulu bagaimana perjalanan saya hingga akhirnya mau memulai perawatan wajah. Jadi setahun lalu saya baru memulai yang namanya perawatan wajah, ya walaupun lebih banyak malasnya daripada rajinnya. Selama ini sebenarnya saya amat sangat cuek dengan perawatan wajah karena lingkungan tempat saya menghabiskan waktu mayoritas tidak menggunakan skincare. Semenjak remaja hingga sekarang masih remaja saya hanya menggunakan facial foam dan terkadang masker untuk wajah karena saya juga hanya mengenal bedak dan lipstik untuk make up sehari-hari. Wajah saya tidak banyak diapa-apain kok jadi ya saya pikir tidak perlu ribet merawatnya.

Beberapa tahun lalu sebenarnya saya pernah diingatkan oleh seorang rekan kerja akan pentingnya merawat kulit wajah yang menjadi pembeda setiap orang. Tapi ya dulu mah skincare tidak menjamur seperti sekarang. Dulu mah cuma ada merk lokal dan wajah saya sombong karena banyak tidak cocok dengan produk lokal jadi saya cuma pakai facial foam untuk wajah. Jadi intinya saya "batu" untuk urusan perawatan wajah sampai akhirnya sadar di tahun 2017. Hahahaha

Masih melanjutkan cerita di atas. Saya diracuni oleh teman saya ketika saya menginap di rumahnya. Teman saya ini memiliki kulit wajah yang berminyak dan berjerawat dan masker ini memang diperuntukkan mereka yang memiliki wajah dengan minyak berlebih dan pori-pori yang besar. Wajah saya berminyak tapi masih dalam batas normal jika dibandingkan dengan teman saya tapi saya memiliki pori-pori yang besar (mau didempul make up setebal apapun, yang namanya pori-pori besar sulit disamarkan). Pada saat saya menginap, saya juga diracuni produk lain tapi yang saya ingat hanya ini dan water sleeping mask-nya Laneige. Keesokan paginya wajah saya memang terasa berbeda, lebih nyaman disentuh sehingga saya jadi tergoda untuk mencoba produk perawatan wajah lainnya.

Saya yang kebetulan sedang di Jakarta memutuskan datang ke gerai Innisfree yang ada di Central Park yang sedang mengadakan promosi, yaitu beli masker ini gratis toner dan facial foam ukuran kecil. Jadi dengan harga 190 ribu rupiah kita akan mendapat 3 barang. Nah, sekarang mari memasuki tahap mengulas produk. Hehehe


Setelah saya punya masker ini sendiri, saya jadi bisa menilai sendiri bagaimana pengaruh sebenarnya di wajah saya. Innisfree (menurut penuturan banyak orang) merupakan salah satu skincare yang tidak menimbulkan efek beruntusan di wajah jika tidak cocok dan ini berlaku di saya. Tapi ingat, harus sesuai petunjuk penggunaan ya, kalau tidak justru bisa menimbulkan jerawat besar atau beruntusan atau iritasi .

Memakai masker ini memberikan sensasi dingin di wajah saat menunggunya kering. Masker ini juga seperti memiliki aroma terapi karena setiap saya menunggu kering, saya sering merasa tenang dan mengantuk. Tidak enaknya adalah masker ini membuat wajah terik saat maskernya sudah kering. Masker ini harus dibilas maksimal 20 menit ya karena kalau lebih dari itu bisa membuat jerawatan. Saya pernah ketiduran selama kurang lebih setengah jam dan wajah saya jadi berjerawat keesokan harinya. Anjuran membilas masker ini adalah memakai air hangat, awalnya saya ikuti tapi lama-lama malas sehingga saya membilas dengan air biasa (setelah melihat YouTube channel-nya mbak Suhay Salim tentunya). Dan ternyata membilas dengan air biasa tidak menimbulkan efek negatif di wajah saya.

Saya yang tidak rutin memakainya (padahal hanya boleh digunakan maksimal 3x seminggu tapi masih aja males!) melihat tidak ada perubahan yang signifikan di wajah saya, pori-pori saya masih segitu-gitu saja. Tapi memang mengontrol produksi minyak di wajah karena wajah saya pernah menjadi kering saat saya lagi kesambet rutin memakainya. Memakai masker ini juga bisa membuat jerawat yang sudah timbul white head meredam. Saya pernah memakai masker ini, entah suhu ruangan panas atau suhu badan saya yang panas, masker ini tidak kering dalam 20 menit, padahal biasanya 5 menit saja kadang sudah kering. Waktu saya berkaca, ternyata wajah saya penuh keringat! Akhirnya saya bilas dan untungnya tidak menimbulkan efek negatif di wajah saya.

Sekarang sudah ada varian baru dari masker ini yaitu Super Volcanic Pore Clay Mask 2x. Menurut teman saya yang sudah mencobanya, memakai varian baru lebih enak dan tidak membuat wajah terik apabila maskernya sudah kering. Saya mau mencobanya tapi lebih besar rasa keraguan saya daripada rasa penasaran saya mencobanya. Hahaha. Masker ini hanya 100 ml tapi kalau dipakai seorang diri membutuhkan waktu lama untuk habis, karena produk perawatan wajah biasanya harus habis dalam waktu 6 bulan. Saya sekarang lebih tertarik dengan Jeju Volcanic Pore Scrub Foam-nya Innisfree. Semoga segera terlaksana untuk membelinya. Aamiin :)

Jumat, 27 April 2018

Konsistensi

Wohoooo... Sebulan sudah blog ini diabaikan. Tapi tenang, seorang Virzha masih tetap menulis kok. Jadi memang sebulan ini saya sok mencari kesibukan lain (padahal emang ga sibuk juga sih), yaitu mencoba peruntungan di UC Media.

Sejujurnya saya galau sekaligus senang menulis di UC Media.Senang karena memang tertantang, karena ada aturan yang harus diikuti sehingga membuat saya menjadi belajar dan terus belajar dalam menulis. Galau karena dari awal, saya memilih kategori Musik sebagai ladang garapan tulisan saya. Tapi nyatanya pembaca di tulisan saya sangat minim. Lalu saya tergoda menulis kategori Film dan boom! Ya, tulisan saya mulai meningkat pembacanya! Terlebih ketika kemarin saya menulis tentang Film Avengers: Infinity War.

Meningkatnya jumlah pembaca tidak berpengaruh terhadap poin indeks yang saya dapatkan karena saya menulis di luar kategori saya. Itu sedih banget rasanya, apalagi rekomendasi tema yang muncul di saya adalah kategori lain di luar kategori Musik. Poin indeks ini berpengaruh supaya saya bisa mendapatkan berbagai macam keuntungan, salah satunya monetasi pendapatan.

Dua hari lalu saya iseng mengganti foto profil saya di UC Media dan sampai detik ini foto profil saya belum berganti. Hahahaha. Saya pun, kalau tidak salah, hanya bisa satu kali berganti kategori. Ini makin menambah kegalauan saya. Apakah saya harus konsisten di kategori Musik atau berpindah ke kategori lain? Ya, memang kategori Gosip menjadi kategori yang sangat menjanjikan tapi itu bertentangan dengan prinsip saya, pertanggungjawabannya besar. Kalaupun pindah, memang kategori Film sepertinya menjanjikan tapi saya sekarang sudah jarang menonton. Huhuhu

Saya tidak menyangka jika menulis di UC Media bisa membuat saya galau. Hehehe. Melihat saya yang berganti foto profil saja lama, berarti untuk mengubah kategori yang saya garap juga akan lama karena saya tidak bisa mengubah profil saya yang lain jika foto profil saya belum disetujui atau ditolak oleh pihak UC Media. Hanya satu yang bisa saya lakukan selama menunggu sih, yaitu tetap menulis :)

Selasa, 27 Maret 2018

Review Film: The Last Word (2017)

Setelah terkena serangan nyeri haid, saya menjadi malas untuk menulis :( Sebenarnya banyak yang ingin saya tuliskan tapi karena nyeri haid semuanya buyar dan berlanjut selama berhari-hari. Kali ini saya mau mencoba me-review film yang "ngena" di hati saya yang berjudul The Last Word. Saya mau review ya bukan menulis resensi atau sinopsisnya, dan saya kaitkan dengan apa yang saya rasakan setelah menontonnya :)

Awal mula saya menonton film ini hanya iseng. Pada saat itu, bookmyshow bekerjasama dengan Telkomsel untuk promo pembelian tiket nonton di bioskop dengan menukar poin Telkomsel. Karena saat itu saya masih mahasiswa yang uang jajannya terbatas, tidak salah dong kalau saya memanfaatkan gratisan :)) Saya hanya bermodalkan ongkos PP dari tempat kos menuju bioskop. Saya memutuskan untuk menonton di CGV MOI karena saat itu hanya CGV MOI yang tidak perlu menambah biaya lagi untuk menonton :)) Jadi ya memilih film yang ada di situ dan itu adalah film The Last Word.

Sumber: http://www,imdb,com/title/tt5023260/

Saat menonton film, tidak jarang saya tertawa karena kekonyolan para pemainnya. Emosi saya cukup terbawa selama film berlangsung dan saya sempat meneteskan air mata :( Walaupun film ini mendapat rating yang biasa saja (bahkan jelek), tapi saya mendapat "pesan" dari film ini. Ya, selera saya tentang musik, film, dan yang lainnya sepertinya cukup "unik" :)) Karena ketika sebuah karya banyak diapresiasi baik oleh orang, saya justru mempertanyakan di mana letak bagusnya? Begitu pula ketika sebuah karya mendapat apresiasi buruk dengan menjelaskan ini itu, saya mempertanyakan di mana keburukannya?

Oke, lanjut ke filmnya. Saya baru tahu kalau di luar negeri sana, di surat kabar harian akan ada pojok berita untuk berita kematian seseorang yang berpengaruh atau setidaknya pernah memiliki posisi penting. Entah memang demikian atau hanya ada di film ini saja. Kalau di Indonesia, berita kematian yang ada di surat kabar biasanya berbayar seperti iklan.

Di film ini menceritakan tentang Harriett Lauler (Shirley MacLaine), seorang wanita tua yang menyebalkan. Suatu pagi dia membaca pojok berita tentang kematian seseorang yang ia kenal. Menurutnya, apa yang ditulis sang penulis adalah melebih-lebihkan karena sosok yang telah meninggal tidak seperti yang dituliskan. Lalu, karena penyakit yang diidapnya dan vonis dokter yang menyebut hidupnya tidak lama lagi, ia berniat berubah. Ia sadar bahwa selama ini dia cukup menyebalkan dan apabila meninggal nanti maka tidak ada yang akan menulis hal baik tentangnya di surat kabar.

Ia menyewa seorang penulis berita kematian, yaitu Anne Sherman (Amanda Seyfried) dan juga mengangkat anak dari panti asuhan, yaitu Brenda (AnnJewel Lee Dixon). Bertiga mereka menjadi tokoh utama di film ini. Sekian lama mereka menjalani kehidupan sehari-hari bersama hingga akhirnya hari kematian Harriett Lauler tiba. Anne Sherman akhirnya menuliskan apa yang selama ini ia alami bersama Harriett Lauler selama sisa hidupnya, menuliskan apa yang sebenarnya, tidak dilebihkan dan dikurangi.

Film ini mengajarkan kita tentang bagaimana seseorang ingin diingat sebagai orang baik setelah kematiannya, betapa orang tersebut menyebalkan ataupun jahat. Prinsip saya seketika berubah, jika ingin tahu bagaimana seseorang yang tidak begitu dekat dengan kita, lihatlah saat dia meninggal. Mungkin terlambat tapi itulah penilaian yang sesungguhnya, tidak ada rekayasa :)

Rabu, 21 Maret 2018

Saya dan Olahan Bunga Telang Biru Kering

Di zaman now sekarang ini, tentunya kita tidak asing dengan istilah vlogger, selebtweet, selebgram, dan istilah kekinian lainnya untuk orang yang memberikan pengaruh di kalangan masyarakat. Ya, entah sejak kapan saya mengikuti selebgram bernama Tiya Rahmatiya, selebgram yang terkenal karena rajin membagikan resep dan tutorial memasak. Suatu ketika, beliau di-endorse oleh toko yang menjual bunga, benih, dan bibit bunga telang biru.

Saya yang kepo dengan bunga telang akhirnya berselancar di mbah google untuk mencari tahunya. Dan hasilnya? Banyaaaakk :)) Tapi saya masih belum ada gambaran tentang tanaman ini karena saya baru pertama kali mengetahuinya. Banyak yang bilang kalau bunga telang ini seperti tanaman liar tapi saya sebagai anak generasi 90an tidak pernah melihatnya di lingkungan tempat tinggal saya :( Bahkan keluarga dan tetangga saya, serta banyak teman saya (yang masa kecilnya tinggal berbeda kota dengan saya) juga tidak mengetahuinya -.-

Usut punya usut ternyata bunga telang ini sedang naik daun bersama beberapa tanaman lainnya karena kandungan yang dimilikinya dan biasanya dikonsumsi layaknya teh. Yang saya ingat khasiat dari bunga telang antara lain sebagai antioksidan, obat sakit batuk, obat bronkitis, obat iritasi mata, melancarkan haid atau menambah kesuburan wanita yang sudah menikah (promil), mengurangi uban, dan sebagai pewarna panganan alami (seperti pandan dan kunyit). Sebenarnya masih banyak khasiat lainnya namun itu yang saya ingat karena sepertinya "gue banget nih" :)) Bunga telang ini katanya ada warna pink dan putih juga namun jarang sehingga yang terkenal hanya si biru saja.

Saya yang semakin kepo dengan tanaman ini akhirnya memutuskan untuk membeli bunga telang biru yang telah dikeringkan. Saya berkreasi mengolah si biru ini menjadi berbagai macam panganan. Pertama kali saya tentunya mencoba membuat teh biru yang sangat sederhana, tinggal diseduh saja dengan air panas :)) Teh biru ini kalau dicampurkan dengan jeruk (jeruk apa saja) akan berubah warna menjadi ungu loh. Begini penampakannya.


Rasanya? Aneh :)) Ya, saya yang sebelumnya pernah mengkonsumsi air rebusan dedaunan merasakan aneh saat meminum teh biru dan teh ungu ini. Tidak hanya aneh di lidah tapi saya juga merasa pusing setelah meminumnya tapi saya tetap menghabiskannya. Beberapa hari kemudian saya mencoba si biru sebagai pewarna makanan dan saya membuat nasi kerabu ala-ala, seperti ini....


Rasanya? Aneh juga! Hahahahahahaha. Saya mengikuti resep yang membuat nasi kerabu tanpa bumbu dan tanpa santan, hanya memakai daun salam, daun jeruk, dan serai sebagai pengharum. Saya tidak pernah makan nasi kerabu asal Malaysia jadi saya hanya ikut-ikut resep yang berseliweran saja :)) Saya mengikuti resep ini karena sederhana. Lagi-lagi saya terpaksa menghabiskannya walaupun rasanya aneh :( Kali ini saya tidak merasakan pusing seperti sebelumnya :)

Lalu saya juga mencoba membuat Nam Dok Anchan khas Thailand. Lagi-lagi aneh di lidah saya dan saya kebanyakan gula saat membuatnya :( Saya tidak mendokumentasikannya karena tidak eye catching. Penampakannya seperti teh biru dan teh ungu juga, menurut saya hijau dari pandannya tidak terlalu nampak (dilihat dengan mata telanjang maupun di kamera).

Masih belum puas, saya bereksperimen lagi dan mencoba membuat puding susu biru. Dan lagi-lagi rasa aneh menyerang saya! :( Rasanya benar-benar aneh dari berbagai macam puding yang pernah saya makan, bentuknya juga jelek sehingga tidak didokumentasikan. Walaupun rasanya aneh, untungnya Nam Dok Anchan dan puding susu biru ini tidak membuat saya pusing setelah mengkonsumsinya.

Empat kali merasakan rasa yang di luar ekspektasi, apakah membuat saya berhenti? Tentunya tidak! Hahahaha. Karena saya membeli agak banyak tentunya mubazir kalau dibuang kan? :)) Lalu percobaan berikutnya adalah membuat mie. Dan ternyata hasilnya tidak biru seperti yang diharapkan. Awalnya adonan mie yang dibuat biru namun setelah dicampur batu kik atau soda abu, warna birunya berubah menjadi hijau :)) Warna hijaunya berbeda dengan warna mie yang memakai bayam atau sawi sebagai pewarnanya. Dan lagi-lagi tidak saya dokumentasikan karena sudah terlanjur kecewa :))

Lima kali bereksperimen dengan lima macam panganan yang berbeda namun rasanya sama membuat saya benar-benar bingung. Banyak orang yang menikmati si biru ini tapi kenapa saya tidak? :( Masih penasaran dan akhirnya pada percobaan berikutnya saya hanya membuat susu biru. Kali ini saya dokumentasikan karena warnanya lumayan bagus. Rasanya? Bisa dijawab sendiri yaa! :))


Kesimpulannya adalah, lidah saya tidak cocok dengan rasa bunga telang biru ini dan sesekali saya pusing setelah mengkonsumsinya. Kalau hanya sekali dua kali rasanya aneh, mungkin saya belum terbiasa tapi saya sudah berkreasi ini itu dan berakhir sama, mungkin lidah saya tidak cocok dengan si biru :( Padahal khasiat si biru ini "gue banget" loh :(

Apa kalian ada yang senasib dengan saya?

Winnie The Pooh

Saya bukan orang yang fanatik menyukai sesuatu. Misalnya ada orang yang sangat menyukai warna biru, saya sendiri bingung menyukai warna apa :)) Setidaknya saya membeli pakaian, tas, sepatu, ponsel, dan benda-benda lainnya dengan warna netral atau warna yang stoknya tersedia. Saya tidak ambil pusing soal itu. Tapi saya dicap orang yang menyukai warna kuning dengan kebanyakan teman-teman saya :))

Sama seperti warna kuning, saya pun dicap orang yang menyukai Winnie The Pooh, dan saya beberapa kali mendapat kado yang berbau beruang madu tersebut :)) Awal mulanya saat saya SMA dulu, seorang teman saya menyimpan kontak saya di ponselnya dengan gambar Winnie The Pooh. Alasannya simpel, dia bilang saya mirip Winnie The Pooh :)) Masih belum jelas sampai saat ini mirip yang seperti apa yang teman saya maksud, apakah fisiknya atau kepribadiannya atau keduanya. Setelahnya, kalau ditanya saya menyukai karakter Disney yang mana? Ya saya jawab Winnie The Pooh :))

Saya pernah ke perpustakaan fakultas di kampus almamater saya, bukan untuk mencari buku, hanya supaya terlihat seperti anak-anak rajin lainnya :)) Saya hanya berkeliling melihat koleksi buku apa saja yang ada dan menemukan buku berjudul "Pooh and The Philoshopers" karya John Tyerman Williams. Begini penampakan bukunya.


sumber: https://www,abebooks,com/9780413700001/Pooh-Philosopher-Wisdom-John-Tyerman-0413700003/plp

Sebagai orang yang dicap menyukai Winnie The Pooh, akhirnya saya meminjam buku tersebut. Karena batas peminjaman buku adalah dua minggu jadi saya membacanya selama dua minggu. Sebenarnya bisa saja memperpanjang masa peminjaman, namun saya malas :))

Membaca buku tersebut membuat saya berpikir kalau karakter Winnie The Pooh ini bukanlah sembarang karakter. Di antara banyaknya karakter Disney, hanya Winnie The Pooh lah yang dijadikan judul buku, filsafat pula. Kalau karakter lain mungkin hanya sebatas buku bacaan dongeng anak-anak saja. Dan semenjak saat itu, saya sedikit bangga dicap sebagai penyuka karakter Winnie The Pooh :)

Ternyata, bukan hanya "Pooh and The Philoshopers" saja loh buku yang memakai karakter Winnie The Pooh, masih ada "The Tao of Pooh" karya Benjamin Hoff; "Winnie The Pooh" dan "The House at Pooh Corner" karya A.A. Milne; dan buku-buku anak lainnya. Jadi, apakah kalian pernah membaca buku dengan karakter Winnie The Pooh?

Senin, 19 Maret 2018

Wanita Berinvestasi

Duh judulnya, sok menjual gitu deh :))

Sebagai seorang perempuan, apalagi di zaman now, investasi itu merupakan hal yang lumrah. Bisa dikatakan bentuk investasi seorang wanita lebih banyak daripada seorang pria. Kalau pria kebanyakan berinvestasi dalam hal berbisnis, sedangkan wanita tidak hanya seputar bisnis.

1. Emas atau Perhiasan
Harga jual beli emas memang sangat baik untuk dijadikan investasi karena nilainya yang fluktuatif, lebih seringnya melonjak setiap tahunnya. Bumi juga sudah cukup tua sehingga mungkin stok emas yang ada semakin berkurang. Emas juga biasanya digunakan sebagai mahar atau mas kawin. Sering kan mendengar orang ijab kabul yang berkata:

"Saya terima nikah dan kawinnya XXXXX binti XXXXX dengan seperangkat alat solat dan emas XX gram dibayar tunai"

Nah, tidak heran jika wanita berinvestasi emas, bila tidak membeli sendiri ya dibelikan pasangannya. Hehehehe

2. Properti atau Tanah
Investasi wanita selanjutnya adalah properti atau setidaknya tanahnya. Hehehe. Salah satu bentuk properti yang diinvestasikan wanita adalah rumah kos, terbukti dari seringnya anak kos lebih sering berinteraksi dengan "ibu kos" :))

3. Uang
Nah, kalau bentuk uang sih bisa didepositokan atau sekedar disimpan di bank. Atau kalau berani mengambil resiko, bisa juga berinvestasi dengan bermain saham.

4. Pakaian
Banyak kan meme yang menyebutkan kalau wanita itu bilang tidak punya baju tapi lemarinya banyak dan isinya penuh? Hehehe. Ya itu karena wanita berinvestasi isi lemari. Sebenarnya tidak hanya pakaian, masih ada sepatu dan juga tas loh :))

5. Tupperware
Kalau ini sih lebih ke ibu-ibu yang merupakan wanita ya. Ibu-ibu yang rela menyuruh suami atau anaknya kembali ke kantor atau sekolah karena lupa membawa pulang tupperware :)) Seiring berjalannya waktu, saingan Tupperware mulai banyak kok tapi ya yang legend ya tupperware :)

6. Pendidikan
Di zaman now ini banyak sekali wanita yang bergelar Master maupun Doktor. Entah harus berterimakasih atau justru mengutuk Ibu Kita Kartini karena wanita akhirnya bisa mengenyam pendidikan, karena tidak sedikit pria yang mundur karena level pendidikan wanita yang tinggi sehingga wanita menjadi galau. Apapun itu, pendidikan memang investasi yg baik, toh banyak disebutkan dalam peribahasa:

"Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China"
atau peribahasa berikut:
"Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat"

Jadi, bagi para wanita, tidak usah galau dan mengutuk Ibu Kita Kartini untuk hal ini. Semua sudah ada jodohnya masing-masing kok :)

7. Produk Kecantikan
Hahahaha. Pasti banyak yang setuju dengan investasi yang satu ini. Apalagi beberapa tahun belakangan ini Indonesia diserbu berbagai macam produk kecantikan dari negara luar di mana merk, harga, dan variannya amat sangat variatif. Produk kecantikan ini tentunya menjadi saingan klinik kecantikan yang ada karena produk kecantikan kebanyakan tidak membuat ketergantungan para pemakainya.

Kalau banyak pria yang bilang kalau produk kecantikan merupakan pemborosan dan bukan investasi, mungkin mereka buta :)) Coba mereka lihat para artis wanita yang semakin berumur justru semakin glowing dan flawless, pasti mereka tidak berkedip. Tapi zaman now mah tidak perlu melihat artis, karena banyak kok wanita yang wajahnya glowing dan flawless layaknya artis :)

Jadi, kalian para wanita, sudah berinvestasi apa saja nih? :)

Minggu, 18 Maret 2018

Membaca dan Menulis

Melihat beberapa tulisan lama yang diposting di blog ini membuat saya tertawa. Ternyata saya dulu amat sangat jelek dalam hal menulis, kaku dan terlalu memaksakan. Hahaha

2012 mungkin awal di mana saya mulai dipaksa menulis karena saat itu saya sedang menyusun skripsi. Dosen pembimbing saya mungkin pusing melihat tulisan saya kala itu. Mungkin beliau melihat ketidakteraturan saya dan teman seperjuangan lainnya dalam menulis. Pesan beliau yang masih saya ingat sampai sekarang adalah:

"Membacalah maka kamu akan bisa menulis"

Ya, pesan yang terdengar sederhana namun sangat bermanfaat. Sejak itu saya mulai berinvestasi buku, lebih tepatnya novel. Dalam hitungan minggu ternyata saya mengalami perubahan yang signifikan dalam menulis bahkan saya sempat dikira sebagai plagiator oleh dosen pembimbing saya tersebut karena tulisan saya amat sangat berbeda dari awal bimbingan. Hahahaha. Ke depannya, kalian yang membaca tulisan saya pun akan melihat perbedaan tulisan saya dulu dan sekarang sehingga saya tidak akan menghapus tulisan lama saya.

Beruntunglah kalian yang sejak muda sudah memiliki bakat menulis karena tidak semua orang memilikinya. Banyak orang yang harus belajar dan berlatih keras untuk bisa menulis :)

Sabtu, 17 Maret 2018

Welcoming One of My Resolutions in 2018

Setelah bertahun-tahun lamanya menghilang dari dunia blog, ternyata akun ini masih ada dan bisa diakses! Hehehe. Sebenarnya mau mulai aktif menulis kembali sebagai resolusi di tahun 2018 ini, semoga saja bisa tetap konsisten dan fokus sehingga bukan hanya sekedar resolusi atau wacana :)

Tulisan yang akan diposting tentunya disesuaikan dengan suasana hati ya, bisa berupa informasi, opini, review produk atau jasa yang digunakan, atau sekedar curhatan yang belum tentu berfaedah untuk kalian :) Nah, mungkin foto-foto yang akan ditampilkan di blog ini juga tidak banyak. Kenapa? Karena diusahakan semua foto adalah dokumentasi pribadi, soalnya suka ribet kalau ambil foto orang dan memasukkan credit atau sumbernya :)) *Lebih tepatnya males kali ya bukan ribet :))

So, welcome to my blog, fellas :)

Selasa, 24 April 2012

Don't Be Good To Me - Kim Jong Kook


Hangeul

자꾸 잘해 주지 마요 더는 잘해 주지 마요
차라리 차가운 게 오히려 나을 텐데
아님 무관심 한 게 오히려 나을 텐데


옷자락 끝에 묻은 먼지를 떼주는 일
무심코 웃으면서 어깨에 기대는 일


그냥 버릇 일 꺼야 지워보고 바쁘게 하룰 보내봐도
눈에 찍힌 사진처럼 또 생각나고 생각나


*. 자꾸 잘해 주지 마요 더는 잘해 주지 마요 또 다시
사랑 앞에 무릎 꿇고 아파할 자신 없네요


혹시 다른 맘이라면 나완 다른 맘이라면 누군가
물어보면 소개해요 그냥 아는 사람 이라고 담담하게


며칠 전 내게 했던 늦은 밤 그 전화는
못 받은 게 아니라 받을 수 없었어요


혹시 술에 취해서 생각 없이 외로운 맘에 보고 싶다
말할까 봐 아침이면 다 아닌 일이 될까 봐


*.Repeat


사랑 그 하나만으로 세상 모든 걸 가졌던 그때로
그리워도 돌아가는 길을 찾을 수 없어서
혹시 같은 맘 일까 봐 나와 같은 맘 일 까봐
또 다시 기대하고 또 기다리죠 사랑 앞에서 나 오늘도 바보처럼


그대 앞에 또 서성이죠 바보처럼




English

Stop being good to me
Don't be good to me anymore


It might be better to be cold to me
Or ignoring me might be better for me
Brushing off the dust on my collar
Carelessly laughing and leaning on my shoulder


I let it go, telling myself that its just a habit and busy my day
But I think about ti again and again as if I took a picture


Stop being good to me
Don't be good to me anymore
I don't have the confidence to kneel my knees and be hurt by love
If you have other thoughts than me, if you have different thoughts than me
If somebody asks you who I am, nonchantly introduce me as just someone you know


The phone call a couple of days ago at night, that call
it's not that I didn't wat to answer, but I couldnt
Just in case I tell you I miss you when I'm drunk
because in the morning, I'll regret it


Stop being good to me
Don't be good to me anymore
I don't have the confidence to kneel my knees and be hurt by love
Although I had the whole world because of love
Although i miss it, I'm unable to find the way


Just in case you have the same thoughts as me
if you happen to have the same thoughts of me
I wait again and again
I am a fool infront of love again
I cling to you again, like a fool


Stop being good to me
Don't be good to me anymore

Senin, 28 Maret 2011

Kenangan Tentangmu

Apakah kamu ingat tanggal 10 Februari 2007? Atau mungkin 15 Februari 2007?
“Apa? Tidak?!


Kedua tanggal itu saja kau lupa! Apalagi tanggal 15 Agustus 2005 kan?! Apalagi sekarang, kau pasti juga tidak ingat padaku, kan? Tapi biarlah, kenangan itu memang hanya indah untuk dikenang!
Kau tau? 15 Agustus 2005 adalah pertama kalinya aku melihatmu dan mungkin juga jatuh cinta padamu. Aku tersenyum saat pertama kali melihatmu, membayangkan seandainya kita bisa saling kenal dan berteman baik karena aku tau aku pasti bukan tipemu. Hari itu adalah hari senin, hari pertama aku pergi ke sekolahku sendiri, tidak diantar oleh ayahku!

Sudah takdirnya bila di hari pertamaku pergi ke sekolah sendiri, aku melihatmu, agar aku bersemangat untuk bisa pergi ke sekolah! Kaulah semangatku selama tiga tahun kemarin! Semua berjalan biasa saja, aku menjadi pengagum rahasiamu yang selalu mencari-carimu di jam dan tempat yang sama setiap harinya. Yang kecewa bila tidak bisa melihatmu setiap paginya.
Aku masuk SMA yang tidak aku ingini, melainkan SMA yang diingini kedua orang tuaku. Wajar saja aku malas-malasan ke sekolah sehingga harus diantra ayahku sampai sekolah. Dan aku jadi bersemangat berangkat sekolah sendiri karena kamu, Karis!

Satu tahun aku jalani dengan menjadi pengagum rahasiamu. Sampai pada akhirnya, di Oktober 2006, kita dipertemukan lagi di suatu tempat karena ternyata sekolah kita memilih tempat yang sama untuk pelantikan anggota ekstra kurikuler baru. Dari situ aku jadi tau sedikit atau mungkin banyak tentangmu. Dari nama, alamat, bahkan kehidupanmu! Inilah takdir. Ternyata memang Tuhan menginginkan kita saling kenal, paling tidak untuk beberapa waktu.
Ternyata namamu Karisma Nugroho. Tinggal di Jalan Bakti bersama kedua orang tua, seorang kakak, dan dua orang adikmu. Alumni SMP Garuda, yang tidak lain adalah sekolah dari kebanyakan teman SMA ku. Kamu pernah pacaran sekali dengan tetanggamu sendiri yang juga satu SMA denganmu. Dan kamu juga seorang perokok.

Aku rasa informasi yang ku dapat adalah wajar. Kebanyakan orang yang jatuh cinta pasti menanyakan hal demikian. Aku bahagia bukan main mendapatkan informasi tersebut. Melebihi aku mendapat hadiah liburan ke Bali selama seminggu!
Begitulah selama berminggu-minggu, aku bertanya-tanya pada teman kita tentangmu. Mencari informasi sebanyak-bayaknya tentangmu. Sampai suatu siang aku menanyakan dirimu pada Fera. Teman sekaligus tetanggamu, yang sebenarnya agak kurang aku senangi. Tapi demimu, aku hilangkan rasa itu untuk memenuhi rasa ingin tauku padamu.

Sabtu, 10 Februari 2007

Hari ini pelajaran pertamaku di kelas adalah Geografi. Guruku sangat ontime dan selalu mencatat berapa lama setiap siswa terlambat di kelasnya. Aku sudah masuk blacklist-nya karena di saat pertemuan pertama, 3 minggu lalu, aku terlambat hampir 1 jam. Dan kembali lagi aku terlambat hari ini tapi tidak ada penyesalan di benakku. Mengapa? Karena kamu, Karis! Karena kamu!

Inilah kali pertama kita berada sangat dekat di dalam satu bus untuk berangkat ke sekolah. Sangat dekat! Betapa tidak? Kita duduk bersebelahan tanpa jarak! Ya, bersebelahan! Dan kamu pasti tidak tau jika wajahku amat sangat merah dan jantungku berdegup kencang seperti habis berlari lama! Bahkan saat aku harus turun di sekolahku, aku merasa sangat berat. Terlalu singkat!
Walaupun aku tau aku sudah cukup terlambat, tapi tidak ada ketakutan, penyesalan karena terlambat ataupun kekhawatiran tidak boleh masuk ke kelas. Tidak terlintas sedikit pun di benakku. Lagi-lagi karena kamu! Aku hanya bercerita tentang ini pada Bela, teman sebangkuku yang sangat mengerti aku. Dan sepanjang hari Sabtu ini aku selalu tersenyum-senyum seorang diri.

Kamis, 15 Februari 2007

Sekian lama aku menanyakan hal ini, akhirnya terjawab juga. Hari ini aku mendapatkan nomor HP mu! Aku mendapatkannya dari Fera, temanku yang juga tetanggamu, dan dia bilang kalau aku boleh menyimpan nomor HP mu! Sepulang sekolah akhirnya aku memberanikan diri untuk mengirim SMS padamu. Dengan gaya SMSan yang masih trend saat ini, aku pun memulainya.

“Karis ya? Boleh kenalan gak?”
“Iya, gw Karis.. Ini sapa ya?”
“Gw Giva..”
“Oh, Giva temennya Fera ya? Yang anak SMA Perintis itu?”
“Iya, bener.. Fera uda cerita ya soal gw? Cerita apa aja?”
“Iya, dia uda cerita.. Cerita apa aja ya? Lupa, banyak sih yang diceritain.. Hehehe..”
“Oh, gitu.. Btw, lagi ngapain nih?”
“Gak ngapa2in kok. Cuma sms-an sama lu aja.”
“Ooooh..”

SMS pun berakhir karena aku hanya membalas demikian. Karena memang dia tidak sibuk, aku jadi bingung ingin menanyakan apa lagi. Ditambah lagi Fera sudah bercerita cukup banyak tentangku, aku jadi bertanya-tanya sebenarnya apa saja yang sudah diceritakan Fera kepada Karis. Aku takut Fera terlalu bocor untuk menceritakan tentangku pada Karis.

Dan semenjak hari ini, kita pun menjadi kenal walaupun kamu tidak pernah tau wajahku dengan jelas. Kau hanya tau namaku, tau bahwa aku perempuan berjilbab, dan suka memakai tas slempang bertuliskan Export.

Begitulah seterusnya, kita semakin akrab di dunia maya. Kamu ingat saat SMP Garuda mengadakan reuni? Aku datang juga walaupun aku bukan alumni SMP Garuda. Dan lagi itu semua karena aku ingin melihatmu! Kita memang bertemu, tapi hanya selintas. Kamu tersenyum padaku, itu kata temanku. Karena aku tidak mau ge-er saat itu.
Kamu ingat saat sampai tengah malam kita SMS-an? Aku tidak ingin berhenti SMS-an denganmu sampai kamu harus mendongengiku agar aku tidur?
Kamu ingat saat kamu datang ke sekolahku untuk bertemu Fitri, teman SMP mu? Aku melihatmu! Dan ternyata kamu juga melihatku tapi lagi-lagi hanya selintas. Aku maupun kau tak ada yang mau mendatangi.
Atau, kamu ingat saat kamu datang ke sekolahku untuk sparing futsal? Aku belum pulang saat itu karena harus membuat dinding pameran lukisan bersama beberapa teman sekelasku! Lagi-lagi kita bertemu tapi hanya selintas! Aku atau mungkin kau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa lebih dekat lagi saat itu.

Saat kelas 3 SMA, aku makin jarang melihatmu menunggu bus lagi. Aku pikir kamu ke sekolah dengan naik motor, karena kebanyakan anak SMA ingin gaya dengan naik motor ke sekolah. Kita pun jarang SMS-an lagi.
Pada suatu sore, kamu ternyata mengirim SMS padaku untuk memberi tauku secara langsung bahwa HP mu dijual dan kamu mengirim SMS padaku dengan meminjam HP saudaramu.

“Va.. HP gw dijual, ini gw lagi minjem HP sodara gw yg nganggur..”
“Dijual kenapa, Ris? Mau ganti HP lagi yg lebih bagus ya? Hehe”
“Kagak juga, buat nambahin beli bensin aja.. Gw kan sekarang bawa motor bokap ke sekolah..”
SMS nya tidak aku balas karena HP ku mati. Saat HP ku dinyalakan, ada sebuah SMS masuk dari Karis yang berisi:
“Va.. Uda dulu yaa, sodara gw mau ngambil HP nya.. Besok-besok gw hubungin lagi..”
Aku terdiam beberapa saat membaca SMS ini. Senang bercampur aduk dengan panik atau mungkin takut. Senang karena aku yakin kamu punya sedikit rasa untukku saat ini. Panik karena kita lost contact untuk beberapa waktu atau mungkin selamanya. Pokoknya rasa ini sangat tidak menentu.

Ternyata tidak! Kita masih bisa berkomunikasi lagi beberapa bulan kemudian, di tahun 2008. Lagi-lagi aku tau nomor HP mu yang baru dari Fera. Itu juga karena aku bertanya pada Fera untuk menanyakan nomor HP mu yang baru.
Aku pun memberanikan diri lagi untuk mengirim SMS duluan padamu.

“Karis.... Apa kabarnya nih? Lama gak ketemu.. Giva”
“Hei, Va.. Tau nomor gw dari Fera yaa? Kabar gw baek kok, lu apa kabar?”
“Iya, tau dari Fera.. Emang siapa lagi?? Kabar gw baek juga kok.. Uda kelas 3 ya kita, hehe.. Mau lanjut kuliah kemana nih?”
“Gw sih maunya ke Jogja, kalo gak ya tetep disini aja.. Kalo lu mau kemana?”
“Gw sih maunya ke Malang ato Surabaya.. Pokoknya ke Jawa lah, hehe.. Sukses ya buat lo.. Semoga kita lulus dengan nilai bagus dan masuk kampus yang kita pengen..”
“Amiiinn..”

SMS pun berakhir. Beberapa hari kemudian Karis menelponku. Hanya sebentar, tidak sampai 2 menit ku rasa. Aku kaget karena back sound yang ku dengar adalah lagu Melly Goeslaw yang berjudul Gantung. Seolah-olah memang mempunyai arti tersendiri bagi cerita kami ini. Dan ternyata, SMS dan telpon ini benar-benar komunikasi kita yang terakhir.

Aku sudah memfokuskan diri untuk masa depanku. Belajar lebih giat lagi untuk bisa mencapai harapanku. Aku berhasil untuk bisa masuk universitas negeri di Pulau Jawa ini. Dan memulai kehidupan baruku tanpamu sedikit pun, Karis.
Aku benar-benar tidak tau lagi kabarmu. Terakhir kali, aku menanyakanmu pada Mei, tetanggamu. Dia bilang kalau kamu tetap di kota itu, tidak jadi ke Jogja. Hanya itu saja.

2 tahun lebih aku hidup di Pulau Jawa dengan bayang-bayang tentangmu yang terekam jelas di memoriku. Tidak dapat aku pungkiri aku tidak bisa melupakanmu walaupun kita sudah lost contact selama ini. Berharap aku bisa melupakanmu dan membuka hatiku untuk yang lain. Menjalani hidupku benar-benar tanpa berharap sedikit pun tentangmu.

1 Januari 2011

Aku menemukan account facebook-mu, tidak diprivasi sehingga aku bisa melihat informasi apa saja yang kau cantumkan. Ternyata kau masih tetap di kota kita dulu, melanjutkan kuliah di sana. Kamu bersama teman-temanmu membuat distro online. Aku juga melihat kamu sudah mempunyai pasangan. Tidak sedikit pun ada rasa kaget dengan informasi-informasi tersebut.

Yang aku kaget adalah gaya bahasamu yang jauh berbeda. Gaya bahasamu lebih kasar! Teman-temanmu juga terlihat seperti pemuda-pemudi nakal. Sungguh tidak bisa aku percaya. 3 tahun kamu berubah begitu drastis, bukan seperti Karis yang aku kenal dulu! Kecewa? Mungkin.
Akhirnya, kamu sendiri yang membuatku untuk benar-benar berhenti berharap padamu. Kamu membuat illfeel dengan kata-katamu yang bagiku kasar! Karis yang dulu hilang, hilang bersama keyakinanku untuk melupakanmu.
Mana mungkin aku menyesal pernah mengenalmu bahkan mencintaimu! Kamu adalah semangatku selama 3 tahun masa remajaku. Walaupun aku putuskan untuk tidak ingin mengenalmu lagi sekarang. Hanya berharap yang terbaik untuk hidup kita.

TITIPAN

“masalah hanyalah titipan yang nantinya akan mendewasakanmu dan membuatmu lebih bijak”


Masalah yang kali ini dititipkan padaku adalah kamu! Kamu yang sudah menghancurkan semuanya! Semua yang berawal dari ketidaksengajaan kita saat bertemu di negeri orang. Saat itu kita sama-sama ikut travel untuk berlibur ke Australia.
Siapa sangka bila dari 8 peserta travel, 6 diantaranya adalah pasangan kecuali kita. Keadaan itupun membuat kita mau tidak mau menjadi dekat karena yang lain memang memiliki dunia sendiri-sendiri.

Kepergianku ke Australia sebenarnya hanyalah untuk menghindari masalah. Masalahku dengan suamiku. Ya, aku memutuskan untuk menikah muda dengan orang yang usianya dua kali lipat dari usiaku.
Mana ku tau kalau menikah dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari kita tidak akan ada masalah! Semua jauh dari harapanku 3 tahun lalu. Entah apa yang merasukiku 3 tahun lalu sehingga aku mau menikah dengannya.

Namanya Fano. Ternyata usianya tidak begitu jauh berbeda denganku, hanya berbeda 5 tahun. Kedekatan kami membuat kami saling bercerita tentang kehidupan kami.
Sekali lagi, karena aku pergi untuk menghindari masalah, melupakan masalahku sejenak, maka aku hanya bercerita yang baik-baik saja tentang hidupku. Aku tidak bilang bila aku sudah menikah. Lagipula siapa dia? Baru kenal! Dalam kamus hidupku, orang yang baru ku kenal tidak pantas tau tentangku lebih dalam.
Berbeda dengan Fano yang begitu terbuka padaku. Ternyata dia ke Australia juga untuk menghindari masalah dengan tunangannya.

“Jadi kenapa kamu pergi ke Australia?”
“Hanya berlibur, penat dengan kehidupan di Jakarta. Kamu?”
“Menghindar..”
“Dari seseorang atau dari masalah?”
“Masalah dengan seseorang..”
Aku terdiam. Aku juga bukan tipe orang yang ingin tau urusan orang lain. Terlebih orang itu sangat baru ku kenal.
“Tunanganku..”
“Hah? Kenapa? Tunangan?”
“Kamu melamun ya? Iya, tunanganku. Dia ingin agar aku segera menikahinya..”
“Wajar bukan? Wanita butuh kepastian! Aku juga akan melakukan hal yang sama bila di posisi tunanganmu!”
“Maksudmu? Aku harus segera menikahinya?”
“Tentu saja! Mau apa lagi memangnya? Kamu bertunangan dengannya adalah wujud keseriusan hubungan kalian bukan?
“Bukan.. Bukan begitu. Ini tak seperti yang kamu pikir..”
“Lalu?”
“Aku tidak mencintainya sedikit pun..”
“Lalu untuk apa kamu bertunangan dengannya? Mau mempermainkan perasaannya?”
“Tidak! Bukan! Bisakah kamu tidak lebih dulu men-judge? Bisakah kau mendengar ceritaku tanpa memotong?”

Aku kaget. Dia seperti bercerita dengan orang yang sudah begitu dekat dikenalnya. Aku pun hanya mengangguk sambil mengernyitkan dahi. Dan dia pun melanjutkan ceritanya.

“5 tahun lalu kami berkenalan. Dari awal aku memang tidak mempunyai perasaan yang lebih kepadanya. Biasa saja. Bahkan sampai sekarang.
Sampai dua tahun lalu, dia mengalami kecelakaan hebat. Dia koma selama beberapa hari. Saat koma dia selalu menyebut namaku, selalu. Saat itu aku tau kalau ternyata dia menaruh hati padaku.”

Sejujurnya aku tidak fokus pada ceritanya. Aku asyik jalan-jalan dengan pikiranku sendiri. Lagipula siapa suruh dia ingin aku hanya mendengar tanpa dipotong sedikit pun? Tiba-tiba dia minta pendapatku.

“Jadi bagaimana menurutmu?”
“Apa? Kenapa? Maaf, kamu bercerita terlalu cepat..”
“Harus ku ulang dari awal?”
“Aaaah, tidak! Tidak perlu! Bila aku di posisimu, aku akan mengikuti kata hatiku walau mungkin kata hatiku itu salah. Tapi ada rasa kepuasan tersendiri bila kita mengikuti kata hati kita. Menyesal atau tidak, itu belakangan. Karena penyesalan memang selalu hadir di belakang, bukan?”

Kali ini dia yang bengong dengan ucapanku. Aku kan hanya asal bicara agar dia tidak marah karena aku tidak mendengarkan certanya.

“Ada yang salah?”
“Tidak! Tiap orang bebas berpendapat. Dan kamu benar-benar mengejutkanku dengan jawabanmu!”
“Oh ya? Mengapa?”
“Baru kamu yang menanggapi demikian! Ikuti kata hati!”
“Kalau kamu memang ragu, ikuti saja kata hatimu! Aku wanita, wajar aku mengikuti perasaanku! Aku tidak mau banyak berpikir yang nantinya akan menambah masalah lagi!”

Gayaku seperti orang tegar yang berani menghadapi masalah saja. Padahal aku sama galaunya dengan dia. Lebih galau malah! Mau bagaimana lagi? Aku tidak mau dia tau kalau aku punya masalah yang jauh lebih rumit dari dia.
Begitulah selama seminggu. Ada saja selingan tentang masalahnya. Dan aku selalu menanggapinya dengan sok bijak! Itu masalahmu, dan kamu yang harus memutuskan penyelesaiannya, bukan? Jadi aku pikir pendapatku tidak akan berpengaruh pada keputusannya.

Akhirnya tiba saatnya kembali ke Indonesia, kembali berkutat dengan penatnya kehidupan di Jakarta dan masalah lamaku! Tapi kembalinya kami ke Indonesia tidak menyurutkan komunikasi diantara kami. Kami malah tambah dekat.
Kedekatan kami berujung pada perselingkuhan kami. Fano tidak juga menikahi tunangannya. Dan aku juga masih dengan suamiku, tentu saja hal ini tidak diketahui Fano.

Entah apa yang merasukiku sehingga aku memilih berselingkuh dengan Fano. Aku merasakan sesuatu yang lain dari Fano, cinta yang lebih tulus dari suamiku!
Sampai-sampai aku berani melakukan hubungan intim dengannya. Awalnya memang kami hanya sekedar menyalurkannya dengan ciuman yang penuh nafsu. Siapa sangaka kami jadi makin berani?

Ada kenikmatan tersendiri bercinta dengan Fano! Aku malah lebih sering melakukannya dengan Fano daripada suamiku sendiri! Setidaknya aku beruntung karena aku tidak hamil setelah selama beberapa bulan aku rutin bercinta dengannya. Sampai suatu ketika, yang aku takutkan terjadi! Aku hamil dan aku tidak tau sperma siapa yang telah membuahi sel telurku. Suamiku sendiri atau Fano?
Suamiku menyadari keanehanku. Suamiku juga bertanya apakah aku sudah datang bulan atau belum.

“Akhir-akhir ini kamu makannya banyak yaa?”
“Masa’ sih, Mas?”
“Iya.. Jangan-jangan kamu hamil?”
“Apa? Hamil? Gak deh..”
“Loh, kok gitu jawabnya? Gimana kalo kita periksa ke dokter aja?”

Aku terdiam! Kenapa suamiku begitu perhatian padaku? Di saat begini justru dia semakin perhatian. Aku takut kalau anak ini anak Fano! Sangat takut bagiku untuk menghadapi kenyataan ini! Masalahku berganti lagi sekarang!

Ternyata aku positif hamil. Rasanya aku ingin keguguran saja! Aku tidak peduli dengan anak di dalam rahimku ini! Sangat-sangat tidak ingin peduli! Aku pun memberanikan diri berbicara pada Fano masalah kehamilanku ini.

“Aku hamil....”
“Apa? Hamil? Bagus dong! Aku jadi punya alasan untuk menikahi Gina!”
“Apa? Bagus katamu?”
“Ada yang salah? Aku mencintaimu! Aku akan bertanggunjawab akan kehamilanmu ini!”
“Aku sudah menikah! Saat aku melakukannya denganmu, aku juga rutin melakukannya dengan suamiku! Aku tidak tau ini anak siapa! Aku tidak tau! Aku bingung! Aku takut!“

Fano kaget bukan main! Dia amat kecewa denganku! Wanita yang dianggapnya sempurna benar-benar sempurna! Sempurna menghancurkan hidupnya! Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hening pun menyelimuti kami.
Suamiku malah sibuk mempublikasikan kehamilanku ini kepada semuanya! Suamiku pun melakukan syukuran atas kehamilanku ini dengan mengundang semua saudara dan kerabat. Aku kaget saat melihat Fano datang di acara syukuran atas kehamilanku.

Ternyata Fano adalah keponakan suamiku. Aku shock! Rasanya aku ingin mati detik ini juga! Aku hanya bisa mematung! Betapa tidak! Dosa apa yang sudah ku perbuat ke suamiku? Aku dan Fano sama terkejutnya! Ketika pernikahanku dengan suamiku, Fano memang tidak datang karena sedang ke Kanada. Kami juga tidak pernah bertemu dalam acara keluarga apa pun. Jadi kami memang tidak saling mengenal!
Aku dan Fano hanya bisa saling memandang dan berharap anak yang aku kandung adalah anak suamiku! Bukan anak Fano! Dan hanya waktu sekarang yang bisa menjawab pertanyaanku dan Fano!

“anak ini, masalah ini...
keduanya sedang dititipkan padaku!”